Jakarta (initogel daftar) — Di banyak sudut negeri, ruang kelas masih berdiri dengan atap bocor, dinding retak, dan lantai yang menua bersama harapan murid-muridnya. Di sanalah pendidikan diuji bukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh keamanan dan kelayakan ruang belajar. Menjawab tantangan itu, Istana Kepresidenan Indonesia menegaskan bahwa pemerintah akan merenovasi 60.000 sekolah pada 2026—sebuah langkah masif yang melampaui program Sekolah Rakyat (SR) dan menegaskan keberpihakan negara pada keselamatan serta martabat anak didik.
Kebijakan ini diproyeksikan menyentuh sekolah-sekolah negeri di berbagai jenjang dan wilayah, dengan prioritas pada bangunan yang paling berisiko terhadap keselamatan siswa dan guru.
Pendidikan Dimulai dari Ruang yang Aman
Istana menekankan, renovasi bukan sekadar mempercantik gedung, melainkan menjamin keamanan publik—khususnya keselamatan anak. Banyak sekolah berada pada kondisi rawan: struktur rapuh, sanitasi minim, dan pencahayaan buruk. Situasi ini tidak hanya mengganggu proses belajar, tetapi juga berpotensi menimbulkan kecelakaan.
“Anak berhak belajar di ruang yang aman dan layak,” tegas pernyataan Istana. Renovasi akan menitikberatkan pada penguatan struktur, perbaikan atap dan lantai, sanitasi, ventilasi, serta aksesibilitas.
Melampaui Sekolah Rakyat
Program Sekolah Rakyat tetap berjalan sebagai ikhtiar pemerataan akses pendidikan. Namun, renovasi 60.000 sekolah menunjukkan skala komitmen yang lebih luas: memperbaiki yang ada, sambil membangun yang baru. Dengan pendekatan ini, pemerintah berupaya menghindari ketimpangan—agar anak di desa terpencil memiliki rasa aman yang sama dengan anak di kota.
Pendataan kondisi fisik sekolah menjadi dasar penentuan prioritas, sehingga intervensi tepat sasaran dan berdampak nyata.
Human Interest: Belajar Tanpa Rasa Takut
Di sebuah sekolah dasar pedalaman, seorang guru bercerita tentang murid-murid yang memindahkan bangku saat hujan karena tetesan air dari atap. “Mereka tetap ingin belajar,” katanya. Renovasi bagi mereka berarti belajar tanpa rasa takut—tak khawatir plafon runtuh, tak terganggu genangan.
Bagi orang tua, kabar ini menghadirkan ketenangan. Anak-anak mereka bisa berangkat sekolah dengan aman, dan pulang membawa ilmu, bukan kecemasan.
Aspek Hukum dan Tata Kelola
Renovasi skala besar menuntut akuntabilitas. Istana menegaskan pelaksanaan akan mengikuti aturan pengadaan dan standar keselamatan bangunan, dengan pengawasan berlapis dari pusat hingga daerah. Transparansi menjadi kunci agar setiap rupiah benar-benar berujung pada ruang kelas yang lebih baik.
Koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah diperkuat agar jadwal, mutu, dan pemeliharaan pascarenovasi berjalan berkelanjutan.
Dampak Sosial yang Lebih Luas
Sekolah yang layak bukan hanya menaikkan kualitas belajar. Ia menggerakkan ekonomi lokal—pekerja bangunan, pemasok material—serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap layanan publik. Dalam konteks kebencanaan, bangunan sekolah yang kuat juga dapat berfungsi sebagai titik aman sementara.
Renovasi ini diharapkan memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah, sekaligus meningkatkan kehadiran siswa dan kinerja guru.
Menatap 2026 dengan Kepastian
Dengan target 60.000 sekolah direnovasi pada 2026, pemerintah menegaskan arah pembangunan yang membumi: mendahulukan keselamatan, memastikan keadilan akses, dan memuliakan proses belajar. Ini bukan proyek satu tahun, melainkan fondasi jangka panjang bagi generasi mendatang.
Penutup
Pernyataan Istana bahwa renovasi sekolah melampaui Sekolah Rakyat adalah pesan jelas: pendidikan tidak boleh ditunda oleh bangunan yang rapuh. Ketika ruang kelas diperbaiki, harapan ikut menguat. Dan di sanalah negara hadir—menjaga anak-anaknya belajar dengan aman, bermartabat, dan penuh asa.

