cvtogel – Pagi di Solo selalu punya irama sendiri. Di antara lorong-lorong kota yang sarat sejarah, denyut kreativitas tumbuh dari ruang-ruang kecil: rumah produksi batik, dapur usaha kuliner rumahan, studio desain, hingga bengkel kriya yang nyaris tak pernah sepi pesanan. Di ruang-ruang inilah Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) turun langsung, meninjau aktivitas pelaku kreatif yang menghidupkan jenama lokal kota budaya tersebut.
Kunjungan Menekraf ke Surakarta—atau Solo—bukan sekadar agenda seremonial. Ia menjadi pertemuan antara kebijakan negara dan kerja sunyi para pelaku usaha kreatif yang selama ini bertahan dengan daya cipta, bukan modal besar.
Menyapa yang Berkarya di Akar Rumput
Dalam peninjauan itu, Menekraf berdialog langsung dengan pelaku UMKM dan komunitas kreatif. Mulai dari pengrajin batik dengan motif kontemporer, pelaku kuliner berbasis resep tradisi, hingga jenama fesyen dan kriya yang mulai dikenal di pasar digital.
Cerita yang muncul hampir seragam: semangat besar, kualitas produk yang terus meningkat, namun tantangan akses pasar, pembiayaan, dan konsistensi produksi masih menjadi tembok tinggi. Di hadapan Menekraf, para pelaku tak hanya memamerkan produk, tetapi juga harapan—agar karya lokal tak berhenti di etalase kota sendiri.
Jenama Lokal sebagai Identitas Ekonomi
Menekraf menegaskan bahwa jenama lokal bukan sekadar produk dagang, melainkan identitas budaya yang memiliki nilai ekonomi. Solo, dengan kekuatan sejarah dan tradisinya, dipandang memiliki modal kuat untuk melahirkan produk kreatif yang otentik dan berdaya saing.
Dalam kerangka kebijakan publik, penguatan jenama lokal menjadi strategi penting: menciptakan lapangan kerja, menjaga warisan budaya, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Negara, kata Menekraf, hadir untuk memastikan ekosistemnya bekerja—dari hulu kreativitas hingga hilir pemasaran.
Dari Kualitas ke Keberlanjutan
Peninjauan ini juga menyoroti pentingnya keberlanjutan. Banyak pelaku kreatif di Solo telah menghasilkan produk berkualitas, namun masih berjuang menjaga konsistensi bahan baku, standar produksi, dan manajemen usaha.
Menekraf mendorong pendekatan pendampingan yang tidak berhenti pada pelatihan singkat. Akses pembiayaan yang ramah UMKM, penguatan kapasitas manajerial, hingga koneksi dengan pasar nasional dan global menjadi kunci agar jenama lokal benar-benar naik kelas.
Bagi pelaku usaha kecil, keberlanjutan bukan istilah besar. Ia berarti pesanan yang stabil, pekerja yang tetap digaji, dan usaha yang bisa diwariskan.
Kreativitas Anak Muda dan Arah Kota
Solo dikenal sebagai kota yang ramah bagi kreativitas anak muda. Banyak jenama lokal lahir dari kolaborasi lintas generasi—antara tradisi dan inovasi. Menekraf melihat potensi ini sebagai kekuatan yang harus dijaga oleh tata kelola kota.
Ruang kreatif, kemudahan perizinan, dan dukungan promosi dinilai penting agar talenta muda tidak harus hijrah ke kota besar lain. Kreativitas yang tumbuh di daerah, jika dikelola dengan baik, justru bisa menjadi motor pemerataan ekonomi.
Negara Hadir, Bukan Mengambil Alih
Dalam setiap pertemuan, pesan yang ditegaskan Menekraf sederhana namun penting: negara hadir untuk memperkuat, bukan menggantikan peran pelaku usaha. Kreativitas tetap milik warga. Pemerintah bertugas membuka jalan agar karya lokal bisa bertemu dengan pasar yang lebih luas.
Pendekatan ini dinilai krusial agar pelaku kreatif tetap merasa memiliki kendali atas jenama mereka—tanpa kehilangan identitas demi mengejar pasar.
Harapan dari Kota Budaya
Kunjungan Menekraf meninggalkan harapan baru di Solo. Bagi pelaku kreatif, kehadiran pemerintah pusat memberi rasa diakui dan didengar. Bagi kota, ini menjadi momentum untuk menegaskan diri sebagai pusat kreativitas yang tidak hanya kaya sejarah, tetapi juga relevan dengan masa depan.
Di gang-gang kecil tempat ide besar lahir, Solo terus berkarya. Dan dengan dukungan kebijakan yang berpihak, jenama lokal dari kota ini perlahan bersiap melangkah lebih jauh—membawa cerita, nilai, dan kebanggaan Indonesia ke panggung yang lebih luas.

