Jakarta — Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Agus Subiyanto menegaskan dukungan TNI AD terhadap ketahanan pangan nasional melalui pengembangan agroforestri. Pendekatan ini dipandang strategis karena menyatukan produksi pangan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat—tiga pilar yang saling menguatkan di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan ekonomi global.
Bagi Indonesia yang kaya hutan dan lahan, agroforestri bukan sekadar teknik bertani. Ia adalah cara hidup: menanam pangan tanpa mengorbankan alam, menjaga alam sambil menghidupi keluarga.
Agroforestri: Pangan Tumbuh Bersama Hutan
Agroforestri mengintegrasikan tanaman pangan, perkebunan, dan pepohonan dalam satu bentang lahan. Hasilnya berlapis: pangan tersedia, pendapatan petani lebih stabil, dan ekosistem tetap terjaga. KSAD menilai model ini relevan untuk memperkuat ketahanan pangan jangka panjang, terutama di wilayah perdesaan dan kawasan penyangga hutan.
Melalui pendampingan, edukasi, dan kerja sama lintas sektor, TNI AD mendorong praktik agroforestri yang adaptif—mulai dari pemilihan komoditas, konservasi tanah dan air, hingga penguatan rantai pasok lokal.
Keamanan Publik dan Ketahanan Wilayah
Ketahanan pangan adalah bagian dari keamanan nasional. Ketika pangan tersedia dan terjangkau, risiko sosial menurun dan stabilitas wilayah menguat. Agroforestri membantu mengurangi kerentanan akibat gagal panen tunggal, memperkaya sumber gizi, serta menekan degradasi lahan yang kerap memicu bencana.
Di wilayah rawan, kehadiran program terpadu juga mempercepat respons komunitas—membangun kemandirian sekaligus kesiapsiagaan.
Human Interest: Petani di Pusat Perubahan
Di balik kebijakan, ada petani dan keluarga yang merasakan dampak langsung. Agroforestri memberi kepastian: panen tidak bergantung pada satu komoditas, pendapatan tidak putus saat musim berubah. Pohon memberi naungan, tanah terjaga, dan hasil kebun datang bergantian.
Pendekatan ini menempatkan warga sebagai subjek—dilibatkan sejak perencanaan, dibekali keterampilan, dan didampingi hingga panen bernilai ekonomi.
Kolaborasi untuk Hasil Berkelanjutan
KSAD menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah, kementerian terkait, perguruan tinggi, dan komunitas. Standardisasi praktik ramah lingkungan, akses pembiayaan mikro, serta pasar yang adil menjadi kunci agar agroforestri berkembang konsisten dan berdampak luas.
Teknologi sederhana—irigasi hemat air, pupuk organik, hingga pencatatan hasil—ikut diperkenalkan untuk meningkatkan produktivitas tanpa merusak alam.
Menatap Masa Depan Pangan
Dukungan KSAD pada agroforestri menegaskan arah yang membumi: ketahanan pangan dibangun bersama alam dan manusia. Ketika hutan dirawat, pangan tumbuh; ketika pangan cukup, masyarakat tenang; ketika masyarakat sejahtera, negara kuat.
Pesan akhirnya sederhana dan kuat: rawat bumi, kuatkan pangan, sejahterakan rakyat—itulah agroforestri sebagai jalan ketahanan Indonesia.

